PuisiHujan - Puisi Pendek Tentang Hujan, Kenangan dan Rindu. Di antara kaum muda, hujan tetap memiliki kesan tersendiri. Dari fenomena alam inilah puisi hujan akan tercipta, kenangan akan kenangan masa lalu akan diingat. Nah, dengan puisi hujan yang menggambarkan suasana hati akan dicurahkan semuanya di sana. Friday March 26, 2021. Kumpulan puisi tentang malam dan rindu, cinta, hujan adalah kata kata puisi rindu terinspirasi suasana malam hari yang indah dan hati yang selalu menyimpan kerinduan karena merindu seseorang sehingga tercipta kata kata tentang malam dan rindu dalam bentuk puisi malam dan rindu. Memang terkadang keadaan di malam hari PuisiKehidupan Halaman 35 Kumpulan Puisi Kehidupan Hingga 2022. Dari tahun ketahun kegemaran orang membaca semakin berkurang. Jangankan kok menulis puisi untuk Kehidupan dengan kata-kata kiasan. Membaca buku saku saja semakin berkurang. Walaupun ini dipengaruhi banyak faktor, tetap saja merupakan kemunduran. Berikutini adalah puisi tentang hujan 2 bait dalam bentuk puisi pendek yang menceritakan tentang hujan dan kesedihan. Sebagaimana hujan dalam puisi tak selamanya menceritakan tentang hujan yang turun akan tetapi puisi hujan juga terkadang bermakna kesedihan, seperti salah satu puisi hujan kesedihan karena galau yang dipublikasikan berkas puisi LerengMerapi Karya: Puisi Sitor Situmorang Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini Aku akan rindu balik pada semua ini Sunyi yang kutakuti sekarang Rona lereng gunung menguap Pada cerita cemara berdesir Sedu cinta penyair Rindu pada elusan mimpi Pencipta candi Prambanan Mengalun kemari dari dataran Dan sekarang aku mengerti Juga di sunyi gunung Kumpulanpuisi pendek tentang hujan yang indah. Keunikan kata tentang hujan selalu membawa inspirasi dalam hujan puisi dan berbagai karya tulis. Karena kata hujan terkadang dijadikan sebagai puisi kenangan, puisi hujan dan rindu, puisi hujan romantis atau pun hujan puisi singkat dan puisi pendek hujan romantis malam yang dingin. Pelangijuga sering menjadi inpirasi bagi para penulis puisi untuk merangkai kata kata indah dan menarik yang bercerita tentang hujan dan terkadang juga sebagai tema puisi rindu, puisi cinta romantis dan lain sebagainya. Hujan adalah berkah dan anugerah namun terkadang menjadi sebuah musibah, maka ramahlah dengan alam agar ketika hujan turun Bagaimanakata kata rindu dan kata hujan dalam bait puisi hujan dan puisi tentang rindu yang tak terjawab. Untuk lebih jelasnya puisi tentang hujan dan rindu atau puisi hujan dan kerinduan yang tak terjawab. Disimak saja berikut ini puisi hujan dan rindu kian membara dengan tema puisi hujan dan rindu kekasih yang tak terjawab. dibawah ini. kHm3. - Puisi Pendek Tentang Cinta Dan Hujan Kemarin. Apa kabar sobat pencinta Puisi Pendek ? semoga baik - baik saja ya. Oya, kali ini Penulis akan share lagi Puisi pendek Tentang Cinta dan hujan kemarin. Ada apa dengan hujan kemarin? ada rindu yang tak bisa dibendung cie ciee lagi ada yang rindu nih siapa hayoo ;. Cinta dan hujan aghh...kau tahu aku suka dengan hujan itu. Ketika kau dengar nadanya melantunkan detak- detak yang membuatmu mengingatkan pada seseorang yang kau cintai. Sang penyair selalu menati hujan karna ia bisa menjadi inspirasi untuk menulis puisi indah buat kamu yaa kamuu ciee Hujan KemarinOke deh kelamaan nih pidatonya hhee maap soalnya lagi belajar nulis juga. kalau ada salah - salahnya minta dimaapin aja yaa malum penulis pemula. Jadi kaya gini, gak tahu dimana naro titik dan koma hhee taunya naro hati aku di hati kamu !! hhee ; yaa udah Next aja dehh. TAK KUNJUNG REDA Di kota ku musim hujan bagai mana dengan kota mu? semoga saja musim kita sama Sehingga kita bisa dengar nyanyian rintik hujan yang turun seperti detak jantung kita saat jumpa Lihatlah lewat jendela kaca rumahmu hujan tak kunjung reda kau tahu? semakin menggigil rinduku padamu Senja hilang sebentar lagi malam tiba tapi hujan tak juga kunjung reda begitu juga rindu ini di dada! Oleh Tendi Hilman TANYA JAWABKU Jika kau bertanya padaku tentang laut maka kujawab ia adalah tinta yang takan pernah habis kutuliskan puisi indah untukmu Jika kau bertanya padaku tentang malam kujawab ia adalah tempatnya kerinduan Jika kau bertanya padaku tentang cinta maka kujawab ia adalah misteri yang sangat indah Jika kau bertanya padaku tentang hati kujawab sama seperti dulu mencintaimu diam-diam Oleh Tendi Hilman HUJAN KEMARIN TENTANGNYA Di satu sore di kotaku tempat ku tumbuh dan bermimpi bersama suara gitar sahabatku dan segelas kopi hitam ditangan dan sebuah lagu untuknya Rintik hujan datang menghampiri bersamanya kau lewat dengan harapku Kau adalah bunga mawar yang tumbuh di musim itu musim cinta.. cinta pertamaku Tanah masih basah oleh hujan sore aku menghampiri bunga mawarku ia tersenyum membalas dan berlalu ini tentang perasaanku padanya aku mencintai dia dalam hari-hariku Waktu terus berlalu dan aku masih di sini di balik tirai hujan aku melihatnya dari jauh dia begitu cantik gemulai saat ia berjalan rambutnya yang panjang dengan matanya yang indah sungguh hujan kemarin adalah tentangnya tentangnya... tentangnya..Puisi Oleh Tendi HilmanBerhubung udah malem dan mata mulai ngantuk maka Puisi Pendek Tentang Cinta Dan Hujan Kemarin Tentangnya cukup sampai disini dulu ya besok kita lanjutin lagi ok. Oia kalu kamu ngerasa Puisi Pendek ini keren gimana gitu boleh ko kamu share di medsos kamu. Kalau ada kopi pengennya sih lanjut terus tapi besok harus kerja? yaudah wassalam deh byee ;. Kumpulan Puisi Rindu Di balik hujan yang turun. bagaimana kata kata puisi rindu saat hujan turun dalam bait bait puisi tentang rindu dan hujan yang dipublikasikan berkas puisi sama ceritanya dengan puisi tentang hujan dan kenangan atau kata kata hujan dan rindu saat hujan lebih jelasnya puisi rindu dan puisi hujan disimak saja berikut ini kumpulan puisi rindu dibalik hujan yang KEPADA YANG PERNAHKetika rintik hujan bergemericikSuaranya berisik mengusikSeakan mampu menghiburGeming menatap genanganTerbesit dalam lamunanSaat bercengkramaBanyak kisah tercurahDari tawa hingga tangisanWahai wajah seribuYang pernah menabur benih di taman hatiHingga tumbuh bebunga rasaBeraneka warna indah merekahPun jua pernah menitip rinduDengan sejuta madu manis perekatTidakkah tersadari kumpulan luka kini merimbunPuas menjerat perlahan menghilangPUISI MASIH YANG AKUHujan kian menderas kuyupkan hatiMemuara pada rasa yang berkecamuk entahTentang cinta yang pernah singgah; masihkah?Rindu kian gigilMendekap jiwa yang perlahan terkucilSebentuk rasa masih bertahan di dadaDalam ketiadaan yang terkikis keterasinganMasih yang akuMenyimpan cinta dan rindu yang samaDi pelataran sunyi....Mimpi berpeluk perih di hatiPUISI KUNANG SALAH TERBANGkau datangini bukan musimmuhujan baru satu kali mengecup tanahmeski bertubi tubi rintiknyaah kau bukan rindukau laron yang salah alamatnanti saja kalau sudah musim penghujansebab tadi hujan hanya percobaansetelah aku lihat lihat ternyata salahkau bukan larontapi kunang kunangyang terbangsebelum waktunyaIa berfikir gelap karena malampadahal langit abu abu sebab hujanpantas saja cahayanya tak keluarkunang kunang malang sayapnya basahkunang kunang kasihan matisebelum tuju hariDemikianlah tentang kumpulan puisi rindu dibalik hujan yang turun, baca juga sajak hujan dan kopi atau puisi hujan membawa rindu yang telah diterbitkan sebelumnyaSemoga kumpulan puisi rindu dibalik hujan yang turun dapat menghibur dan menginspirasi untuk menulis puisi pendek tentang hujan dan rindu atau sajak rindu sederhana. Puisi Hujan – Puisi Pendek Tentang Hujan, Kenangan dan Rindu. Di antara kaum muda, hujan tetap memiliki kesan tersendiri. Dari fenomena alam inilah puisi hujan akan tercipta, kenangan akan kenangan masa lalu akan diingat. Nah, dengan puisi hujan yang menggambarkan suasana hati akan dicurahkan semuanya di sana. Penurunan air dari langit yang kita sebut hujan adalah salah satu anugerah Tuhan Yang Mahakuasa, yang membawa banyak manfaat bagi kehidupan dan kita patut bersyukur. Dengan hujan, kehidupan di bumi selalu terpenuhi. Bagi Anda yang ingin menggambarkan suasana hati Anda dengan puisi hujan, berikut ini kami berikan koleksi puisi tentang hujan. Daftar isi Kenyataan di Balik Hujan Aku Rindu Hujan Kisahku Tak Merindu Hujan Kita Kepada Aku dan kamu Saja Anggap Saja Hujan ini Adalah Aku Halte Persimpangan Hujan ini Turun Lagi Menikmati Tamparan Hujan Senja Basah Hujan Kematian Saat Merindumu Mutiara Kecil Kusambut Hujan Di Saat Hujan di Suatu Sore Kau Pikir Hujannya Telah Reda Hujan Malam Ini Hujan Bersamamu Kisah Hujan Setetes Kenangan dalam Hujan Hujan dan Namamu Jadikan Aku Hujan Memori Tetesan Hujan Musim Hujan Berselimut Duka Hujan di Ternate Rintik Rindu Novena Seperti Hujan Kisahku dan Hujan Secercah Hujan di Ujung Senja Rinai Memberai Sajak Pertemuan Hujan dan Senja Titisan Hujan Bersama Nyanyian Syahdu Kenyataan di Balik Hujan Oleh Tista Apriyandani Pergilah….! Ujarku membara laksana petir membelah sunyi Kian dusta terlanjur kau hembas melukai hati Ku tak pikir sejauh apa langkah kaki pergi Melambai pergi raga tenggelam tak peduli Surat terbuang… Secarik kertas teruntai menari di atas pena Hujan bersaksi dikau menusuk jantung mata Sedih di kala duka hamba menyapa relung raga Berpaling kau pergi silakan saja hatiku rela Bersabar… Insan hati terkelupas Sang sarang perih terluka Tinggalkan dikau bagai telur pecah tak berguna mencintaimu laksana jasad di balik keranda Relung menangis kian terpecah sakit merana Tak peduli… Berlarilah sebahagia kau kejar kapas berkabur Enggan ku lari melangkah menggapai gerimis cinta Sesak hati mengema kaku tenggelam dalam kubur Bibir tak sudi berampun dikau kejam seribu dusta. [*] Puisi aku rindu hujan Aku Rindu Hujan Aku rindu hujan di tiap-tiap tetesan; pada matamu langit kesunyian aku rindu hujan di tiap-tiap percikan; pada detakmu gemuruh keheningan aku rindu dirimu di tiap-tiap hujan; pada namamu menderas kerinduan [**] Kisahku Tak Merindu Hujan Oleh Bukamaruddin Aku adalah tanah kota kemarau abadi yang dihampiri aspal dan beton Aku tak bisa lagi menjadi laki-laki peneduh seperti pohon di pinggir jalan yang sekarang enggan berdaun Aku tak bisa lagi menjadi laki-laki lumpur seperti kesederhanaan tanah dan kenangannya Di sini kisah kasih membantu tunggu tak lagi patuh rindu tak lagi butuh Jika engkau memang tiba maka kuminta gerimismu karena hanya itu yang membuatku tak meluap Jika engkau tetap datang maka kucinta pelangimu karena hanya itu yang tak membuatku mengeluh. [*] Kita Kepada Aku dan kamu Saja Oleh Riris Ariska Dulu ratusan sajak kutulis karenamu Ribuan kata kusampaikan padamu Milyaran mimpi terangkai atas kamu Dulu sebelum kita kepada aku dan kamu saja Aku tak ingin melupa Rasa penuh yang masih menyenja Meski gelap akan datang, dan badai menentang akan menghempaskan, dan pada hujan kau akan kuleburkan Aku tetap mempersilakan dingin memluk, biar dibasah memori terangkut, biar hujan jatuh dan banjir tak kunjung surut, aku tak akan larut seperti gula yang kau aduk. [*] Anggap Saja Hujan ini Adalah Aku Anggap saja hujan ini adalah kenangan, meski rintik yang sedetik, tapi mampu mengingatkan anggap saja hujan ini adalah kerinduan, meski rintik yang setitik, tapi mampu mempertemukan anggap saja hujan ini adalah aku, meski sudah tak lagi deras, tapi tetap membekas. [**] Halte Persimpangan Oleh Rizqi Amalia Di bawah rintik hujan Berpayung langit hitam Aku berjalan memungut puing-puing kenangan Sebuah pertemuan di halte perpisahan Seulas senyum tercipta oleh tatapan mata tanpa sengaja Sepatah sapa memecah keheningan yang ada Berharap hujan enggan tuk reda Tanpa terasa detak dada berdecak tak semestinya Semusim telah berlalu, menelan detik yang melaju Tentangmu, membingkai sisi kalbu Siluet senyum memahat rindu Namun kehilangan mendahului temu Selepas engkau tiada Hujan tak lagi sama Rintiknya membawa aroma kamboja Segenggam ikhlas melepas langkahmu di alam sana. [*] Puisi hujan ini turun lagi Hujan ini Turun Lagi Hujan ini turun lagi untuk yang kesekian kali mengingatkanmu mengingatkanku tentang rintik soal waktu yang sedetik hujan ini turun lagi menetesi kedua pipi membasahimu membasahiku tentang kenang soal airmata yang berlinang hujan ini turun lagi dari kata yang kau namakan puisi namamu namaku tentang cinta soal rasa yang pernah singgah hujan ini turun lagi membekas di lubuk hati. [**] Menikmati Tamparan Hujan Oleh Nani Andriani Saat hujan melanda negeriku Seolah candu aku berlari tanpa malu Menikmati indahnya penorama alamiah Derasnya hujan membasahi tubuhku Membelenggu memikat rindu Kutelentangkan kedua sudut tanganku Menari-nari layaknya bocah kerdil Di bawah guyuran air bah langit Kuterdiam di jalanan sepi Menikmati setiap jengkal tamparan mega Menyentuh pori-pori Kutengadahkan wajah polosku Menyambut datangnya air kehidupan Kupejamkan mata lentikku Meresapi rintikan air yang menjatuhiku Dengan berpayung awan mendung Kulangkahkan kaki menjelajahi pertiwi Bersama hujan yang menemani Hingga reda tak jatuh lagi. [*] Senja Basah Oleh Putry Kata Jingga itu menggoda Jejak kita yang tanpa sisa Pada hujan senja itu Kugantung harap tanpa semu “Jika kita adalah takdir Datanglah dengan cinta tanpa khawatir.” Dahulu, rapal cinta di senja basah Adalah kita saling menyapa Lewat tatap mata Lalui kata tanpa suara Rintik yang jatuh di senyummu Membuatku cemburu “Ingin sekali mendekap lesung pipi Yang begitu tampan itu” Kini, senja itu masih basah Namun cinta kita, yang tertinggal hanya kisah. [*] Hujan Kematian Oleh Lulu’atul Puadiya Tanduk merunduk menguntai zikir kematian Tertunduk di barisan para prajurit untaian deru hujan membasahi tubuh kumalnya Simbahan lumpur mulai menjalar baik sungai tanpa jejak Sajak tangisan terdengar dari lubang tak bertulangnya Miris… Sebuah penantian di tengah tangis hujan Penantian yang terpaksa menanti Zikir kematian semakin dekat Kala sang jubah kebesaran berdiri Bak cagak mencagak tubuh tak berdaya itu Tangisan itu hancur lebur Lidah tak bertulang itu bergetar…. Menahan perihnya gejolak kematian. [*] Saat Merindumu Merindumu adalah menemu sunyi seperti gerimis menjumpai tangis serupa puisi; sebait kata pada tubuh sepi dirinya sendiri merindumu adalah menemu sunyi seperti detak dalam tubuh sajak serupa bunyi; rima yang tak henti-henti menyeru namanya sendiri. [**] Mutiara Kecil Oleh Endang Kurniawan Lihatlah rintikan hujan yang berirama Mengantarkan sebuah kisah dalam drama Kesejukannya menghapus segala bentuk kesedihan butiran-butirannya melukiskan bait yang sedang berjajar Kebahagiaan ini takkan pernah lepas rindu Saat mutiara kecil mengalir indah di wajahmu Hingga jari-jari mungil ini berpijak seraya bertumpu mengusap lembutnya lapisan permukaan nan sejuk Langit pun menangis di saat wajahmu mengalirkan air mata Kisahnya seolah tampak, namun tak terlihat Mutiara kecilnya mengalir mengantarkan sejuta harapan Harapan yang dahulu kutuliskan dalam bait kisah Mutiara kecil di wajahmu Bercahaya layaknya mentari di siang kelabu Kisahnya penuh kenangan manis seperti madu Hingga tak disadari jiwa kehilangan rindu. [*] Kusambut Hujan Oleh Ely Widayati Detik waktu berlalu meninggalkan kawan Kemarau yang mendera mulai bosan Tanaman rimpang menyembunyikan dahan Rumput kering menahan lapar Bilakah hujan datang menghampiri Walau turunnya rinai kecil Mereka senang akan harum hujanmu Membawa kesejukan riang dalam kalbu Rintik tawamu menyuburkan tanah Meski di sini ada air dalam kulah Namun aliran hujan lebih berkah Air alam ciptaan Alloh Kusambut musim hujan ini Dengan senyuman tulus dari dasar hati Agar alam tidak ternodai Agar hujan tidak dicaci. [*] Puisi di saat hujan di suatu sore Di Saat Hujan di Suatu Sore /1/ Ditabur hujan kesunyian sore ini menderas pada getar kata sajak-sajak ditulis menepis sepi melebur jarak dirinya bunga-bunga tumbuh di antara jendela, kursi, dan meja pasti dikenalnya rindu merekah pada nafasmu ujung-ujung jari yang sedari dulu –menyentuhnya melebur pada detak waktu /2/ hujan kesunyian, tidakkah kau dengar puisi suara sepi pada pertemuan ini sajak yang ditulis tak pernah terbaca sebab rindu selalu membuat kita lupa lalu, kembali hujan menulis puisi –lagi di setiap rintiknya di antara jendela, kursi dan meja – tentang bunga-bunga /3/ dan begitu saja pada suatu sore ini hujan yang menderas sajak-sajak yang tak terbaca hingga sampai pada sunyi aku masih sendiri di kursi ini berteduh pada puisi dari hujan sore ini. [**] Kau Pikir Hujannya Telah Reda Oleh Mohammad Roni Sianturi Kau pikir hujannya telah reda begitu saja, kawan? Kau pikir tidak ada sisa? Ah, Menyisakan genangan di hati. Esok, lusa, dan akan kuingat genangan air ini Betapa basah hatinya; tergenang sedih kata Yang kau katakan sendiri Di depan mata dan telinga. Kawan, Kau pikir hujannya telah reda, kau tak sadar; airnya menggenang di hati Kata yang kau kata; badi Dan kini; kau hanya menatap Pura-pura lupa dan suka berbasa-basi Perih dan pedih… Kata-katamu menggenang; menyayat hati. [*] Hujan Malam Ini Hujan malam ini menetes dari pipimu mengalir di pelupuk sunyi membasahi detak waktu Jejak-jejak menulis sajak di hujan malam ini air matanya sendiri Barangkali matamu dan mata hujan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan serupa api kepada abu seperti aku kepada kamu. [** Hujan Bersamamu Oleh Handiyani Aroma itu, waktu itu dalam senja terbenam Hujan memihak dirimu bersemayam Rintiknya menjelaskan wajah bergumam Tanah basah menutupi jejak yang dalam Jelas benar rintik hujan bersamamu Menjadi pemisah saat temu Bertukar air mata semu Hujan menyelimutimu. [*] Kisah Hujan Oleh Rieneke Cahyani Aku menanti dirimu Seperti air menghujam sendu Terus jatuh mengalir kelu Hujan berteriak pilu Tak kudengar dalam surau Jiwaku termenung kelabu Menunggu cinta semanis madu Hingga usai balutan waktu Hujan seminggu berlalu Tersisa petrichor syahdu. [*] Setetes Kenangan dalam Hujan Oleh Tarisya Widya Safitria Dulu Saat semburat merah jingga nan elok Saat gumpalan kapas gelap bersanding bersama cakrawala Tetes kehidupan jatuh serentak Membombardir ribuan kilometer lahan Impresi menguap di atas tanah Larut bersama wewangian hujan Di bawah rintik-rintik nikmat Tuhan Tersemat manis indahnya janji masa depan Penuai kebahagiaan semu berselimut basah Kini Harus beradu dengan nestapa Menatap seruan hina yang menyayat jiwa Menusuk hingga rindu menyeruak keluar Dengan satu tarikan napas gusar. [*] Hujan dan Namamu Oleh E. Natasha Senandung lagu mendekap lirih romansa jiwa Benak menyapa raut wajah yang nyaris tenggelam Dalam lautan mimpi sang penghirup malam Melawan hujan, mereguk jejak tanpa nama dunia Dia yang mencoba membaca arah Dalam gelap, memanggil cahaya yang tersembunyi di balik aksara Berdiri sendiri mencoba mengenal suara kerinduan Adakah dia di sana masih terpaku menatap kenangan Kemana kau akan berlari Melepas pagi dan mencoba memutar mentari Apalah kau masih terlelap dan terus bermimpi Memuja cinta tanpa rasa haus duniawi Kenangan hujan memanggilmu, dan tetap memanggil namamu Meski luka mencoba menjauhkan dirimu dari putaran waktu masa lalu Bulan di sana masih merindukanmu Untuk kembali padanya, tanpa menghapus tangisan hujan di wajahmu. [*] Jadikan Aku Hujan Oleh Afifatur Rohman Jadikan aku hujan Akan kulukis kisah dengan muara air Akan kubuatkan bendungan yang dipenuhi cinta Akan kupenuhi jiwamu dengan rintiknya rindu Ajari aku menjadi hujan Agar aku bisa mengobati hausmu Haus akan dentuman rindu Mengalirkan kesejukan pada tubuhmu yang basah Ijinkan aku menjadi hujan Aku ingin persembahkan musik dengan jatuhnya aku Membuat alunan pada dinginnya cintamu Tapi, ini janjiku Tak ada petir yang membuatmu benci akan diriku. [*] Memori Tetesan Hujan Oleh Setia Erliza Sehelai daun hijau panjang Menutupi mahkota dari derasnya hujan Menuju tempat lautan ilmu Beberapa tahun yang silam Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar Memori daun pisang menjadi bait kisah haru Menempa kisah di musim penghujan Basah? Ayah, derasnya hujan menerpa tubuhmu Sambil menggigil kau genggam tanganku Jelas terlihat dari tangan keriputmu Menuntunku di bawah derasnya hujan Daun pisang mengukir kisah haru Ciptakan kenangan indah tak terhingga Antara aku, ayah, dan hujan. [*] Musim Hujan Berselimut Duka Oleh Fakhri Fikri Rangkaian kata kususun menjadi aksara Bercerita tentang musim hujan berselimut duka Di mana senja tak lagi jingga DI mana mentari enggan menampakkan muka Kala itu, langit menangis berlinang air mata Guntur beretorika tanpa bisa mengucapkan sepatah kata Indonesia berduka Bapak pluralisme bangsa telah tiada. Baca juga Kumpulan Puisi Anak SD Indonesia tentang Alam, Keluarga, dan Pendidikan Karawang, 10 November 2017 [*] Hujan di Ternate Oleh Abi N. Bayan Kau tumpah lagi di gelasku dan aku mesti menyeduh sisa-sisa teh dari cangkirmu. Malam ini, aku kembali memelukmu dalam diam sebelum asap rokok mati dari tanganku. Ada gigil tiba-tiba renyah di ruangan ini melesat keluar jendela dan kau sibuk merapikan sesak. [*] Rintik Rindu Novena Oleh Dikha Nawa Lembar keenam, kumulai lagi dengan mengingatmu Tentang rinduku yang belum tersampaikan Kala percik-percik gerimis menyapaku Di antara aroma remahan tanah yang basah Betapa sulitnya itu Begitu berat menahan lajunya… Entah, di rintik keberapa Ku kan mengeja bayangmu Membahasakan senyummu saat itu Di sini pun masih terasa sama Hampa, serupa kesendirian ini Hingga tak sanggup lagi, hatiku menahan keingkaran ini… Andai saja mampu Menghalau lajunya waktu Andai saja saat itu Tak bersumpah untuk membencimu. [*] Seperti Hujan Oleh Michra Fahmi Mereka bilang aku aneh… Karena aku selalu menunggu air turun dari langit Mereka juga bilang aku gila Karena senang bercerita pada hujan Mereka selalu menjauh ketika rintik menyapa Sementara aku selalu menyambutnya dengan riang Kau benar tentang hujan, ada aroma tanah yang terjamah Dan selalu menggugah rasa rindu antara kita Aku harap kau tau pernah lupa pada hujan yang mempertemukan kita Saat bersama tersenyum memandang langit hitam dan derasnya hujan Kau ajarkan aku menjadi seperti hujan di malam hari Atas harapan dan rinduku pada seseorang Yaaah… Hujan tak pernah lelah turun meski malam Dan tak pula mengharapkan datangnya pelangi. [*] Kisahku dan Hujan Oleh Ghivan Christine Dalam ayunan langkah, yang semakin lambat Dalam helaan napas, yang semakin dalam Dalam desir angan, yang kian menjauh Dalam desah hati, yang kian membiru Entah harap, entah khayal yang digenggam Entah duka, entah suka yang dikecap Hanya tetes hujan yang paham Hanya tetes hujan yang menjawab Dalam biru yang kian menyatu Di derasnya tetes hujan Tak ada kata yang terucap Tapi selaksa makna terjawab Kisahku sama dengan hujan Datang dan pergi tanpa pamit menghembuskan asa dan juga nestapa Hingga hanya dingin yang tersisa. [*] Secercah Hujan di Ujung Senja Oleh Reni Triasa Masih seputar rindu, Tergeletak tak berdaya di antara sendu Isak tangis semakin memekik kalbu Terbata-bata melisankan ingin bertemu Masih seputar rindu, Di ujung senja semakin rapuh Di cercah hujan ingin tetap tinggal Menanggung pedih serpihan rindu di atas bahu Masih seputar rindu, Menyeret paksa jiwaku penuh bisu Menahan jengkal langkahku dengan tangis Suara hati yang berteriak histeris, berkata tetaplah di sini Di atas rinai hujan yang jatuh tanpa jeda Rindu ini belum selesai, katanya. [*] Rinai Memberai Oleh Peti Rahmalina Rinai datang padaku pada saat diri tengah menepi Renyai senyawa hidrat memecah sunyi Segala impresi tentangnya menguar memenuhi imaji Kembali pada ilusi tuk berpuisi Rangkaian asa yang kucipta terverai Dia pergi ketika rinai datang memenuhi semesta tak berisi Serenada pilu mencipta elegi Nyeri yang kau berikan, kuresapi dalam-dalam saat hujan Sembilu menjalar setiap kali rinai berjatuhan Sembunyikan air mata redam jerit kekecewaan Dalam cinta yang tiada berupa Rinai memberai Rinai memberai asa Dalam rindu yang membuat tiada Rinai memberi asa Jadi tiada yang membuat rindu. [*] Sajak Pertemuan Hujan dan Senja Oleh Windarsih Guguran air menyelubungi rona pipi senja Mengembang senyum sepasang insan bertudung payung jingga Bumi sudah dijamah resapan manis hujan senja Usapan tangan di kala pintu-pintu langit terbuka Magis hujan meniduri relung-relung kerinduan Pertemuan perpisahan silih berganti tanpa salam Bagai sebujur kilat membelah angkasa tak pedulikan masa Setara air hujan kala rasa menjatuhkan lara Menatap hitam pemegang gagang payung jingga Kularang melangkah sebelum tangis hujan reda Mencari bening di antara helai rambut legammu Mendaratkan rindu semasa kemarau bertahta padaku Sajak pertemuan di bawah kembang payung hujan Teduhkan jiwa dua insan pemuja ritme tetesan Memori penghujung Desember pelukan batas senja Engkau dan aku meniduri rasa manis air dirgantara. [*] Titisan Hujan Bersama Nyanyian Syahdu Oleh Jannatul Ula Kilau mentari menyinari bumi dengan tandus alam yang menerjang Seketika awan berubah wujud menjadi mangsa kegelapan Mengharapkan curahan air yang menabur Rintihan suci menghidupkan dunia indah nan syahdu Memanggil cinta bagai akar menjalar untuk tetap bersemi Menghias bunga mekar diiringi musik gemercikanmu dari kelayuan Menghias alam dengan biasan mentari Sebagai tangga cinta sang bidadari Butiran embun menempel di ujung dedaunan Membentuk indah bagai mutiara bening Baca juga Puisi Ayah Doa, Terima Kasih dan Permohonan Maaf Untukmu Rintihan hujan butir suaramu menyejukkan imajiku Dalam keheningan anganku terbang entah kemana bersama angin Membuat tubuh ini membeku Dengan hawa yang kau curahkan. [*] Keterangan **Puisi hujan dengan judul Aku Rindu Hujan, Anggap Saja Hujan ini Adalah Aku, Hujan ini Turun Lagi, Saat Merindumu, Di Saat Hujan di Suatu Sore, dan Hujan Malam Ini sudah dipost sebelumnya oleh Moh. Faiz Maulana di *Diambil dan ditulis ulang dari buku Bait Kisah di Musim Hujan Antalogi Puisi. CBK Publishing, Banda Aceh, 2017